Pukul 06.30, jam weker digitalku berbunyi seperti biasa, berusaha untuk membangunkanku. Usahanya berhasil dan aku pun bangkit dari tidurku.

Tiba-tiba terasa sakit, aku pun memegangi kepalaku. Aku teringat kejadian aneh yang telah kualami kemarin. Perem**n itu, ingin menjadikanku sebagai temannya.

”Ashley, ya? ”

Beberapa detik kemudian, aku tersadar dari lamunanku dan berhenti untuk memikirkannya. Toh, aku juga tidak mau ambil pusing tentang hal itu. Aku pun beranjak dari tempat tidurku dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Aku sampai di ruang makan, melihat Ibu yang sedang memasak sarapan di dapur, juga Ayah yang sedang menonton tv dari meja makan. Tv yang berada di dalam ruang keluarga itu dapat terlihat dengan jelas dari ruang makan karena tidak ada sekat yang menghalangi keduanya. Aku langsung duduk di kursi makan dan melirik koran yang berada di atas meja makan. Kupikir aku akan tertarik, namun yang kulihat hanyalah berita biasa. Entah apa aku menarik perhatian Ayah, beliau tiba-tiba memanggilku.

”Ada apa, Dany? Kenapa dengan koran itu? ” tanya Ayah.

”Gak apa-apa. Korannya gak dibaca? ” tanyaku balik.

”Tidak. Lagian itu koran seminggu yang lalu. ”

Kenapa kau menaruh koran lama di atas meja makan, Ayah? Aku ingin mengatakannya, tapi aku membatalkan niatku itu. Tak lama, Ibu mendatangi meja makan sambil membawa 2 piring Fedrise spesial, resep Ibu sendiri. Selain rasanya yang enak, aku sangat menyukai Fedrise Ibu karena sederhana. Ya, sederhana. Dari sekian banyaknya makanan yang pernah Ibu buat, ini adalah yang paling sederhana. Ketika makanan itu hadir di hadapanku, aku pun langsung ”menyerangnya ”.

”Lahap kalau Fedrise, ya? Seperti anak kecil saja, ” ucap Ayah melihatku makan dengan lahap.

Ibu hanya tersenyum melihat tingkah kekanak-kanakanku. Namun, aku tak memperdulikan hal itu dan fokus pada makananku. Setelah sarapan, aku beranjak ke pintu depan dan memakai sepatu, berpamitan kepada kedua orang tuaku. Ketika aku menutup pintu, entah kenapa tiba-tiba aku melihat seorang perem**n yang berdiri tepat di hadapanku. Dia membuatku terkejut.

”Ngapain kau ke sini? ” tanyaku tepat setelah terkejut.

”Memangnya kenapa? Apa aku gak boleh datang ke rumahmu? ” tanya balik perem**n itu yang tak lain adalah Ashley.

”Bukan begitu juga. Tapi, kamu tahu rumahku darimana? ” Aku mulai curiga dengannya. Mungkin benar kalau dia adalah seorang mata-mata.

”J-Jangan salah sangka! B-Bukan berarti aku mengikutimu ke sini atau apa! ” Ah, dia malu-malu.

Stalker, ternyata lebih parah. Tapi, kenapa ia membuntutiku? Aku berniat menanyakannya, tapi dengan melihat kepanikannya saat ini saja sudah cukup untukku. Aku tak ingin membuat salah tingkahnya semakin parah.

”Lalu, apa tujuanmu ke sini? ” tanyaku kembali.

”Ah! Kau ingat permintaanku kemarin, kan? Soal itu… ” jawabnya.

”Masih ingat, ” balasku singkat. Sesuatu yang tak terduga seperti itu tak mungkin kulupakan begitu saja.

”Baguslah! Kalau gitu, boleh kumulai? ”

”Boleh. Tapi sambil berjalan, aku gak mau telat. ”

”Oke! ” jawabnya riang.

Alhasil, kami berdua berangkat ke sekolah bersama. Di saat aku ingin berjalan dengan tenang, perem**n ini berbicara tanpa henti di sampingku. Walau agak menjengkelkan, tapi aku tetap mendengarkannya. Aku sudah pasrah terhadapnya. Lagipula aku juga sudah janji. Ia memulai ceritanya dari masalah rumah, tetangga, hingga barang-barang yang dimilikinya. Entah sudah berapa menit kami berjalan beriringan—sambil mendengar ocehannya, tanpa sadar kami telah sampai di sekolah. Kami pun berpisah di depan tangga yang menuju ke lantai 2 gedung sekolah.

Ketika ia berjalan ke arah kelasnya, aku menaiki tangga menuju kelasku. Ketika aku hendak memasuki kelas, seseorang menghadangku di depan pintu. Ternyata hanyalah teman sekelasku, Rion. Kenapa akhir-akhir ini aku terus dihadang saat melewati sebuah pintu?

”Yo, Daniel! ” sapanya.

”Ada apa? ” balasku dengan nada datar, setelah menerima sapaan yang sama setiap hari. Apa dia sendiri tak bosan?

”Jangan dingin begitu, donk! Aku cuma mau bertanya tentang satu hal, ” ucapnya dengan maksud yang tersembunyi, yang bahkan sudah tertebak olehku.

”Tugas sekolah, kan? ” jawabku singkat—aku sudah tahu isi pikirannya.

”Kau memang temanku! Jadi, bolehkah? ”

”Biarkan aku duduk dulu. ”

Tampaknya ia merasa sangat senang, meskipun aku belum berkata untuk meminjamkannya. Lalu, aku duduk di bangkuku dan memberikan buku tugasku kepadanya.

”Terima kasih banyak! Kau memang Daniel yang baik seperti biasanya! ” serunya sambil berlari kegirangan kembali ke bangkunya. Siapapun tahu kalau dia aneh.

Daniel yang baik, ya? Hingga sekarang pun, aku masih tidak tahu bagaimana orang-orang memandangku. Baik, pintar, atau semacamnya. Bukannya berniat sombong, tapi semua itu benar-benar mereka katakan kepadaku. Aku tak tahu kenapa mereka mengatakan itu, tapi itu sedikit menggangguku.

Tak terasa, pelajaran di dalam kelas telah dimulai sejak beberapa menit yang lalu. Aku pun mengembalikan kesadaranku dan mengubah fokusku ke pelajaran.

====|====|====

Waktu istirahat telah tiba, para murid telah berhamburan kemana-mana. Aku tetap memilih duduk di bangkuku, mencari ketenangan di tengah-tengah keributan yang ada. Ini adalah rutinitasku sehari-hari. Tak ada yang menggangguku saat aku ingin sendiri. Harusnya begitu. Seorang gadis mendatangi kelasku dan membuat seisi kelas terdiam. Yah, ini memang suasana yang tenang, tapi bukan ketenangan seperti ini yang kumaksud. Gadis yang baru kukenal kemarin itu menghampiriku dan menyapaku.

”Hai, Daniel! ” sapanya sambil tersenyum, seakan tak peduli apa yang baru saja terjadi karenanya.

”Oh, Ashley. Ada apa? ” balasku. Sekarang, dia mau ngapain?

”Mau makan bareng? ” tanyanya sambil mengangkat kotak bekal yang ia bawa.

”Hm…. ” jawabku sambil mengangguk ringan.

Makan siang? Aku tak keberatan, lagipula aku juga sedikit lapar. Ia kembali tersenyum dan duduk di kursi di depanku. Ia memutarnya agar dapat duduk menghadapku. Selama itu, aku mendengar bisikan-bisikan dari teman-teman sekelasku. Aku tak tahu pasti apa yang mereka bicarakan, tapi mereka melakukannya sambil menatap kami dengan tatapan sinis. Beberapa ada yang menjauh dari kami. Tak cuma Rion yang aneh, seluruh kelas juga bertingkah aneh saat ini.

”Ada apa, Daniel? ” tanya Ashley bingung. Dia menatapku dengan matanya yang lebar itu.

”Tidak, bukan apa-apa. Apa yang kau makan itu? ” tanyaku mengalihkan perhatiannya dan diriku.

”Oh, ini? Cuman sisa makan malamku kemarin. Kupanaskan lagi karena aku buru-buru. ”

”Buru-buru? Jadi, tadi pagi kau buru-buru ke rumahku? ”

”Bukan begitu! Sebenarnya, iya sih. Aku harus bergegas karena rumahku cukup jauh dari rumahmu, dan juga aku sudah tak sabar untuk cerita d-denganmu. ”

Sekali lagi ia menunjukkan sifat malu-malunya. Setelah ia menghapus ekspresinya itu, ia menyodorkan sesendok makanannya ke arah wajahku. Dia menawarkannya sembari memasang ekspresi memelas. Dia mau menyuapiku? Kalau begitu akan kuterima.

Aku pun melahapnya. Ini cukup memalukan, namun aku terus mengunyahnya. Aku melihat ekspresi wajahnya yang penuh harap. Mungkin, ia ingin dipuji atau semacamnya.

”Hmm…. Ini enak, ” ucapku. Memang enak, sih.

”Hihi….! Mau lagi? ” Dia sepertinya merasa senang.

”Kalau begitu, satu sendok lagi. ”

Lalu ia menyuapiku sekali lagi dengan penuh antusias. Ini enak dan aku pun terus melahapnya. Meskipun begitu, perasaanku tidak tenang. Aku masih merasa risih dengan tatapan orang-orang di dekat kami, menatap kami seperti membenci kami. Tapi, ini aneh. Memangnya aku berbuat salah kepada mereka?

”Merepotkan saja, ” gumamku.

”Apanya? ” tanyanya mendengar gumamanku.

”Tidak, bukan apa-apa. ”

Tampaknya, ia merasa bingung dengan tingkahku. Setelahnya, dia memakan bekalnya sendiri, tanpa menawariku lagi. Wajahnya terlihat imut kalau dilihat dari dekat. Melihatnya makan membuat jantungku berdegup kencang. Perasaan ini, cukup menggangguku. Beberapa orang bilang kalau ini perasaan jatuh cinta, tapi aku menyangkalnya untuk sekarang. Perasaan ini tidaklah hangat seperti orang-orang bilang, justru sangat panas. Tanpa kusadari, ia telah menghabiskan bekalnya dan menatapku dengan penuh rasa heran.

”Kenapa kau bengong terus? Apa kau sakit? ” tanyanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku.

”Eh? Tidak, aku baik-baik saja, ” ketusku terkejut. Wajahnya terlalu dekat.

”Masa? Baguslah kalau kau baik-baik saja. Selain itu, aku punya satu permintaan. Bisakah kau pergi ke atap sekolah seperti kemarin? Aku ingin curhat denganmu di sana. ”

”Aku tidak punya kerjaan juga di rumah, jadi tak masalah. ”

”Terima kasih! Kalau begitu, sampai jumpa nanti di atap sekolah! ”

Ia langsung bergegas pergi sambil membawa kotak bekalnya. Dengan cepat, ia menghilang dari ekor mataku. Suasananya menjadi lebih santai. Ketegangan beberapa menit tadi juga telah menghilang. Kupikir begitu, sampai satu orang aneh menghampiriku dengan wajah yang pucat.

”Ada apa, Rion? ” tanyaku heran.

”A-Apa kau mengenalnya? ” tanyanya balik. Akhir-akhir ini dia semakin sering bertingkah aneh.

”Kenal. Memangnya kenapa? ” Yah, walau baru beberapa hari ini, sih.

”Daniel, karna aku masih membutuhkanmu sebagai temanku, maka aku ingin memberitahumu satu hal, ” balasnya sebelum ia menelan ludah. ”Berhati-hatilah dengannya! Berhati-hatilah dengan Ashley Camryn! Kalau sampai salah langkah, nyawa taruhannya! ”

”Kau berlebihan. ” Oke, kuputuskan kalau dia sudah sinting hari ini.

”Tidak! Aku tidak berlebihan! Ini fakta dan sudah banyak buktinya! Kalau mau, tanyakan saja anak-anak cowok di kelas ini! ”

Korbannya cowok, ya? Dia begitu antusias terhadap hal-hal seperti ini. Bahkan, ia sampai mempengaruhi teman-teman sekelas dengan ucapannya itu. Kalau memang benar begitu, pantas saja kalau dia tak bisa akrab dengan cowok-cowok sekolah. Tapi, aku tak habis pikir, untuk apa aku harus berhati-hati kepada gadis itu. Aku tidak punya alasan untuk menuruti kalimatnya.

”Meskipun begitu, dia tidak terlihat seberbahaya itu. Untuk apa aku harus berhati-hati? ” ucapku.

”Dia mungkin awalnya tidak berbahaya. Tapi, semakin kau dekat dengannya, maka kau akan semakin terbawa sial. Ingat, kau harus berhati-hati. Aku akan percaya padamu. Kalau begitu, dah! ”

Rion kembali ke tempat duduknya ketika waktu pembelajaran dimulai. Seorang guru memasuki kelasku dan mengawali proses pembelajaran. Sebenarnya tidak ada yang spesial dari hal itu. Namun, pada saat itu, aku merasakan sebuah firasat yang aneh.

====|====|====

Pulang sekolah. Frasa ini bermakna bahwa murid-murid telah dipersilahkan untuk pulang dari sekolah ke rumah mereka masing-masing. Tapi tidak untukku, khususnya untuk saat ini. Aku harus mendatangi atap sekolah yang sama untuk menemui gadis yang sama. Saat di sana, aku melihatnya sedang menatap langit, sama seperti kemarin. Ia pun menyadari keberadaanku dan menatapku.

”Akhirnya kau datang juga! ” sapanya sembari tersenyum.

Lalu, dia menyuruhku untuk duduk tepat di sebelahnya. Aku tidak berpikir panjang dan menuruti kemauannya itu. Rasanya sedikit memalukan untukku. Aku juga tidak tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini. Ia hanya membisu untuk beberapa menit.

”Ada apa? Apa kau sakit? ” tanyaku.

”S-Sabar, dong! Aku lagi nyusun kata-kata biar kamu gak s-salah paham! ” serunya yang mengejutkanku.

”Salah paham? Apa maksudmu? ”

”Sudah, diam saja! ”

Aneh. Kenapa dia marah? Setelah itu, ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya, lalu menatapku. Kali ini, tatapannya yang terasa aneh dan itu membuatku kebingungan.

”K-Kali ini apa? ” tanyaku.

”Apa kau juga merasakannya? Itu… Tatapan-tatapan sinis yang mengarah kepadaku saat makan siang tadi? ” ucapnya dengan nada serius.

Kukira apa. Ternyata itu, toh. Jadi, mereka semua menatapnya, bukan aku. Aku jadi sedikit tenang. Tapi, sekarang muncul masalah baru.

”Aku juga merasakannya, ” jawabku.

”Maaf. Aku membuatmu ikut merasakannya, ” ucapnya dengan nada pelan.

”Gak usah dipikirin. Selain itu, apa yang mau kau ceritakan ada hubungannya dengan itu? ”

”Benar. ”

Dia menarik napas, lalu menghembuskannya. Setelah itu, ia kembali berkata.

”Apa kau tak keberatan kalau aku menceritakan tentang masa laluku? ” tanyanya memberanikan diri.

”Aku tak keberatan. ”

”Dulu aku punya seorang teman saat **P. Tidak seperti teman-temanku yang lain, dia itu spesial. Dia adalah sahabatku. Ia selalu ada untukku ketika aku diejek dan di-bully oleh orang lain. Dia selalu membelaku dan ada bersamaku saat aku membutuhkannya.

”Tapi, ada satu hari yang mengubah semua pandanganku terhadapnya. Saat itu, aku tak sengaja mendengar obrolan beberapa cewek di bawah tangga. Aku juga mendengar suaranya di sana. Awalnya aku tak tertarik dengan obrolan mereka, sampai salah satu dari mereka menyebut namaku. Jadi, aku penasaran. ”

Ia berhenti sejenak. Beberapa menit terlewat. Setelah menarik dan menghembuskan napas, ia pun melanjutkan ceritanya.

”Saat mereka membicarakanku, sahabatku, dia menceritakan banyak hal tentangku. Namun, hampir tidak ada yang baik di dalam ucapannya itu. Dia… hanya menceritakan hal-hal yang buruk tentangku. ”

Setelah mengatakan itu, ia membisu. Raut wajahnya menunjukkan kalau ia sedang merasa kesal, tapi juga merasa tersakiti. Dia tak melanjutkan ceritanya lagi. Aku pun memberanikan diri untuk bertanya karena aku masih penasaran.

”Lalu? Kau membencinya setelah itu? ” tanyaku.

”Tidak. Aku… tak langsung membencinya. Tanpa kusadari, air mataku sudah membasahi pipiku, dan aku berlari menjauhi mereka. Aku mencari tempat yang sepi. Aku berlari menuju atap sekolah. Tanpa bisa menahannya lagi, aku mengeluarkan semuanya! Aku tak peduli pada sekitarku. Rasanya sakit sekali! ”

Air matanya sedikit keluar dari kedua matanya, namun dengan cepat ia menghapusnya. Dia sangat emosional. Mungkin itu sangat menyiksa untuknya. Dia adalah orang kesepian yang dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Siapapun tahu kalau itu menyakitkan.

”Esok harinya, dia mulai menjauhiku. Semakin hari semakin sulit untuk berbicara dengannya. Di hari yang sama pun, banyak rumor buruk tentangku mulai bertebaran. Aku tak tahu apa penyebabnya. Walau hanya bertahan hingga aku lulus, tapi aku terus kepikiran. ”

”Jadi, kau mulai merasa dijauhi oleh orang-orang sejak saat itu? ”

”Benar. Cerita yang sangat aneh, ya? Hahahaha…. ”

Walau aku baru mengenalnya, tapi aku tak menyangka kalau ia memiliki masa lalu yang seperti itu. Dia juga menceritakannya begitu saja kepadaku, seakan aku sangat ia percaya. Apa sesakit itu keadaannya baginya, sampai hampir tak ada yang bisa ia percaya lagi? Aku sedikit mengerti dengan situasinya. Aku pun jadi lebih mengenalnya. Beberapa menit setelah suasana hening yang tercipta, dia kembali berbicara.

”Daniel, ” ucapnya.

”I-Iya, ” ucapku balik akibat terkejut.

”Setelah mendengar semua itu, apa kau akan menjauhiku? ”

Menjauhinya? Separah apa rasa frustasinya itu?

”Mungkin memang aku yang memintamu untuk menjadi tempatku curhat, tapi kau boleh meninggalkanku sekarang. Kau tahu, kita juga baru kenal beberapa hari ini, jadi wajar kalau kau memang membenciku setelah mendengar semuanya. ”

Membencinya, ya? Jujur, dia sangat menjengkelkan untukku. Kalau orang biasa, pasti tanpa pikir panjang akan segera menjauhinya. Lagipula, buat apa kau harus berada di dekat orang yang hanya akan membuatmu mendapat masalah? Itu sangat menggelikan.

”Konyol sekali. ”

Dia terkejut dengan apa yang barusan kukatakan. Tapi, aku serius mengatakannya.

”Untuk apa aku menjauhimu? ” Sayang sekali, tapi dia sekarang berbicara dengan orang yang tak pernah memperdulikan hal-hal seperti itu.

”Karena aku orang yang aneh, ” ucapnya dengan nada kecil.

”Memangnya kenapa? Semua orang di dunia ini kuanggap aneh, kok, ” ucapku dengan rasa bangga. Aku sangat jujur untuk yang satu itu. ”Jadi, kau tak perlu khawatir tentang itu. Tapi, jangan juga terlalu mempercayaiku. ”

Ia kembali terkejut dan spontan memandangku. Setelah itu, air matanya kembali mengalir. Namun, kali ini keluar lebih dulu dari pelupuk mata kanannya. Ia pun tersenyum lebar kepadaku. Jantungku berdegup begitu cepat ketika melihat ekspresi itu darinya.

”Terima kasih, Daniel! ”

Dia malah berterima kasih. Padahal jelas-jelas kalau aku mengejeknya. Tapi, sudahlah. Lagipula, sudah terlanjur aku mengatakannya. Dan aku tidak sadar, kalimat yang ia ucapkan itu menggema di dalam kepalaku. Semenjak hari itu pun, hubungan pertemanan kami menjadi semakin erat, dan hidupku akan semakin mengarah ke dalam masalah-masalah yang lebih rumit daripada sebelumnya.

====|====|====

点击屏幕以使用高级工具 提示:您可以使用左右键盘键在章节之间浏览。

You'll Also Like